Senin, 09 Juli 2012

Meletakkan Handphone, Memberikan Hati


Di era digital ini tidak ada kata yang lebih populer selain online. Apalagi ketika handphone dan smartphone menjadi produk teknologi mutakhir yg semakin mudah kita genggam. Online pun menjadi semakin praktis dan mudah karena dunia ada dalam genggaman kita.

Kita bersyukur atas segala macam perkembangan teknologi komunikasi ini yg bermanfaat untuk perkembangan kehidupan manusia. Kita bersyukur berkat internet dan jejaring sosial di dunia maya membuat dunia yg luas menjadi mudah dijangkau.

Kita pun bersyukur karena ada gerakan-gerakan kemanusiaan yg terbentuk melalui jejaring sosial semacam Facebook atau Twitter. Kita juga bersyukur karena melalui Facebook kita dapat memperoleh kiriman sabda Tuhan atau renungan harian dari sahabat-sahabat di dunia maya. Kita bersyukur bahwa kemajuan teknologi komunikasi ini sungguh-sungguh digunakan untuk kebaikan hidup manusia, mengungkapkan kebenaran, dan membangun solidaritas antar sesama manusia.

Meski demikian, kemajuan teknologi komuniasi juga mempunyai efek samping. Perilaku manusia dan pola relasi antarmanusia juga berubah. Kita menjadi mabok online dari bangun pagi sampai malam hari. Kita menjadi pribadi yang hidup dalam dunia sendiri, tidak peduli kepada saudara-saudara kita yg konkret ada di sekitar kita. Handphone memang berpotensi mendekatkan yg jauh, tetapi menjauhkan yg dekat. Kita berada di sini, tetapi hati kita ada di tempat lain.

Jika tidak waspada, keharmonisan dalam keluarga bisa luntur. Kasus-kasus perselingkuhan gara-gara Facebook atau handphone akan merebak. Sangat tragis jika ada orangtua yg lebih memahami masalah teman-teman Facebooknya, tetapi tidak memahami masalah anak-anaknya. Akibatnya, orang-orang yg konkret ada di depan kita menjadi terasa jauh.

Mungkin kita pernah mengalami saat sedang mengobrol dengan seorang teman, ternyata dia malah asyik BBM-an dengan orang lain walau obrolannya masih nyambung. Atau dalam sebuah rapat, ketika pemimpin rapat sedang presentasi, semua peserta rapat malah sibuk dengan handphone masing-masing dan kalau ditanya tetap bisa nyambung.

Apa yg hilang di sini? Fungsi memang tetap berjalan karena orang masih bisa mendengarkan orang yg bicara. Tetapi di sini ada per-HATI-an yg hilang. Jadi HATI-nya yg hilang. Dan masalah HATI inilah yg tidak bisa diganti dengan media apa pun.

Maka memperlakukan handphone, smartphone, dan gadget apa pun memang harus tetap memakai skala prioritas. Jika terkait dengan pekerjaan, alat-alat ini memang berguna sekali. Tetapi dunia manusia bukan hanya dunia kerja. Dunia kerja hanya sebagian kecil dari peziarahan manusia untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Di samping dunia kerja ada dunia relasi dengan orang lain, dunia keluarga, dunia kerohanian, dan lain-lainnya. Dalam dunia HATI, kita harus bijaksana dalam memakai produk-produk teknologi komunikasi ini.

Jika ada orang-orang yg konkret di sekitar kita, kita harus berani meletakkan handphone dan memberikan HATI kita kepada mereka. Dengan sejenak meletakkan handphone, kita akan merasakan kegelisahan anak-anak kita yg terpancar dari ekspresi matanya. Saat di Gereja, meski pastornya nggak asyik sehingga khotbahnya membosankan dan bikin ngantuk, tetapi sesungguhnya sabda Tuhan tidak pernah membosankan. Untuk itu kita perlu memberi HATI untuk Sabda Tuhan. Saat rapat, kita juga harus meletakkan handphone karena saat itu juga kita bisa merasakan semangat, cita-cita, dan idealisme rekan-rekan kerja kita.

Singkatnya, kalau soal HATI, kita memang harus HATI-HATI dalam memakai handphone. Sebab HATI kita harus benar-benar memberi per-HATI-an kepada HATI orang lain.



Diambil dari majalah UTUSAN No. 03 Tahun Ke-62, Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar